Setelah kita diselamatkan, kita harus mengenal Allah Bapa kita.
Seperti apakah Allah Bapa itu? Jika Dia benar-benar ada, seperti apakah Dia?


I. YESUS MEMBAWA KITA MENGENAL BAPA

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu melihat Dia” (Yohanes 14:6-7)

Tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk memperkenalkan Bapa. Pada kenyataannya banyak orang Kristen yang belum mengenal Bapa. Kalau kita mengenal Bapa, hidup kita menjadi tenang. Yesus telah membayar harga yang mahal agar kita mengenal Bapa, dengan cara disalibkan, dikutuk dan diejek. Kalau ada dosa, maka tidak akan ada damai, sehingga manusia perlu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Pada suatu hari ada seorang anak berumur 5 tahun dalam kesederhanaannya yang kekanak-kanakan mengajukan pertanyaan kepada ayahnya, yang banyak orang dewasapun ingin mendapatkan jawabannya, yaitu: jika Allah itu ada, seperti apakah Dia?
   

“Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan  Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yohanes 1:18).
Ayah anak itu mengatakan bahwa Allah itu seperti Yesus.
Sebenarnya bagaimana Bapa di sorga?
Yohanes 14:9 Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami

Standar ideal Bapa adalah Yesus.
Gambaran Yesus sebagai Allah Bapa:
1.    Penuh kemurahan,
2.    Pengampunan,
3.    Keramahan
4.    Kasih sayang.
Melalui kehidupan-Nya Ia memperlihatkan sifat Bapa surgawi kita.
Dalam Yohanes 14:9 dikatakan “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; ..”
   
Salah satu contoh tentang bagaimana Yesus menyatakan Bapa kepada kita ada dalam Alkitab, ketika beberapa ibu ingin agar anak-anak mereka diberkati Yesus, murid-murid-Nya berpikir Ia terlalu sibuk untuk itu. Namun Yesus memarahi murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka,…” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka. (Markus 10:13-16).

Sering kali kita bertanya-tanya mengapa kita dilahirkan ke dunia sebagai bayi yang tidak berdaya. Padahal Allah dapat memberlakukan sistem reproduksi yang dapat menghasilkan manusia dengan fisik yang lengkap seperti manusia ciptaan-Nya yang pertama-Adam dan Hawa. Tetapi Ia memilih untuk menciptakan kita sebagai makhluk dalam proses, orang yang akan bertumbuh perlahan-lahan secara fisik, emosional dan mental, dan akhirnya muncul sebagai orang yang dewasa. Karena Ia bermaksud untuk menjadikan keluarga sebagai wadah tempat kasih-Nya, sehingga anak-anak dapat bertumbuh dengan perasaan dimengerti, dikasihi dan diterima. Sayang sekali banyak keluarga tidak memenuhi ideal ini.

II. PENGHALANG KITA MENGENAL BAPA DI SURGA:
Penghalang kita mengenal Bapa di surga adalah karena adanya gambar bapa jasmani yang rusak
   
Tidak mudah orang mengakui dan mengenal Bapa, berbeda dengan Yesus dan Roh Kudus. Yesus dan Roh Kudus adalah nama yang sangat jarang digunakan, sedangkan Bapa sering digunakan untuk memanggil bapa kita didunia, sehingga apabila gambaran kita mengenai bapa di dunia rusak, maka pandangan kita terhadap Bapa kita di sorga juga akan rusak.  Kalau kita memiliki gambaran yang buruk atau memiliki trauma dengan bapa kita, maka harus dipulihkan.
Macam-macam gambaran bapa yang rusak:
-    Bapa yang otoriter, terlalu keras
-    Bapa yang terlalu memanjakan atau gampangan
-    Disiplin yang salah
-    Kurang penghargaan
-    Sulit berkomunikasi
-    Kasih yang bersyarat

Tujuh hal yang berbeda mengenai salah pengertian terhadap-Nya yang seringkali berasal dari keadaan masa kanak-kanak:
1.    Otoritas
    Kita kadang sering menjauh dengan ciut hati dari otoritas Allah Bapa, karena kita anggap Ia sama dengan tokoh lain yang berotoritas dalam hidup kita, yang kejam, galak, sewenang-wenang, padahal otoritas sebenarnya adalah pengayoman. Kasih Allah adalah sempurna. (Efesus 6:4) à “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Yesaya 49:15)

2.    Kepercayaan
    Allah adalah satu-satunya Bapa yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Dalam             2 Timotius 2:13 à “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Apabila Ia berjanji, Ia pasti akan menepatinya (Bilangan 23:18)

3.    Penghargaan / Nilai-nilai
Seringkali orang tua kita tidak pernah memberikan suatu penghargaan atas keberhasilan kita. Mereka hanya mengkritik dan tidak pernah memuji. Hal ini menyebabkan anak merasa minder dan tidak berharga, padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita adalah serupa dan segambar dengan Allah (Yesaya 42:4 A).

4.    Disiplin dan Kasih
Bapa adalah penuh kasih, tetapi Ia juga Bapa yang adil dan mendidik, menghukum kita apabila kita melakukan kesalahan. Dialah yang mengejar kita dengan pengampunan dan kasih, bukan kita yang mencari-cari-Nya. “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. …” (Hosea 11:4). Kalau kita hanya menerima kasih, kita akan menjadi anak yang manja. Apabila kita hanya didisiplin tanpa dikasihi, maka kita akan penuh dengan kepahitan. Amsal 3:11-12

5.    Kehadiran / Pengertian isi hati
    Salah satu sifat Allah yang tidak dapat ditiru oleh orang tua manapun, yaitu kesanggupan-Nya untuk berada bersama kita sepanjang waktu. Karena orang tua terbatas dan tidak bisa memberi perhatian terus selama 24 jam setiap hari. Dia bersama kita setiap saat dan Ia juga memberi seluruh perhatian-Nya kepada kita: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Ia juga yang mengerti isi hati kita, bagaimana kita rindu menyenangkan hati Bapa. Seringkali orang tua hanya melihat hasil akhir dan tidak memahami perjuangan anak.

6.    Penerimaan
    Allah adalah Allah yang mengasihi tanpa syarat. Kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk meyakinkan Dia supaya mengasihi kita, namun kita perlu menerima kasih-Nya. Ia hanya meminta kita datang kepada-Nya dengan jujur dan sungguh-sungguh; maka Ia akan mengampuni kita dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Dalam Alkitab, nabi Zefanya melukiskan perasaan serupa di dalam hati Allah bagi kita: “Tuhan Allahmu ada diantaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena Engkau dengan sorak-sorai” (Zef 3:17). Anak yang orang tuanya memiliki kasih bersyarat, maka ia selalu memakai topeng dan berpura-pura baik, karena takut tertolak. Kisah anak yang hilang – anak yang sulung (Lukas 15;11-32)

7.    Komunikasi
    Komunikasi yang hangat dan terbuka sangat sukar bagi banyak orang tua, namun Allah dengan jelas mengkomunikasikan kasih-Nya kepada kita. Sesungguhnya, Ia begitu mengasihi kita, (Yohanes 3:16). Sehingga melalui Yesus komunikasi kita dengan Bapa tidak terhalang oleh dosa. Akibat komunikasi kita dengan orang tua kita buruk adalah tidak tahan berdoa, karena kita sulit berkomunikasi dengan orang tua kita dan menganggap Allah tidak punya waktu untuk kita. Mazmur 145:18.


III. PEMULIHAN GAMBAR BAPA MELALUI PENGAMPUNAN

Maleakhi 4:5-6
Kalau kita mau dipulihkan, kita harus mengampuni bapa kita. Pemulihan memori. Kasih Bapa tidak bersyarat. Kasih Bapa tidak bertambah walaupun kita tambah baik atau tambah buruk. Kisah anak yang hilang.

Tiga aspek dari hati Allah Bapa terlihat dalam perumpamaan tentang anak yang hilang:


1.    Kebebasan untuk Memilih
Sang ayah cukup mengasihi anaknya untuk membiarkannya meninggalkan rumah. Meskipun hatinya berduka.
Ø    Allah yang berdaulat memilih untuk memberi kehendak bebas kepada manusia.
Ø    Ia mengambil resiko untuk ditolak

2.    Menunggu dengan Sabar
Sang ayah amat mengasihi putranya sampai setiap hari ia mengawasi kalau-kalau anaknya pulang.
Ø    Adanya kasih karunia yang membawa pertobatan
Yesaya 30:18; Roma 2:4. Dialah Bapa yang menanti.

3.    Penerimaan yang Tanpa Syarat
Sang ayah begitu mengasihi anaknya sehingga ketika anaknya pulang ia tidak menghukum anaknya atas tindakan-tindakannya yang salah, tetapi mengampuninya dan merayakan kepulangannya dengan pesta besar.
Ø    Allah menantikan kita untuk menanggapi kasih-Nya
Ø    Dan menerima pengampunan-Nya
Ø    Ketika kita melakukannya, Ia menyambut kita dengan bebas dan sepenuhnya.

Memang Allah itu kasih dan selalu mau mengampuni, tetapi Ia juga membenci kejahatan dan tidak mentolerir kita untuk mendua hati.

Karakter Bapa kita yang sedang menanti, menurut Alkitab:
1.    Pencipta:
Yang menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya dengan kebebasan untuk memilih apakah mau menanggapi kasih-Nya.
Kisah 17:28; Yes. 64:8

2.    Pemelihara:
    Yang memenuhi kebutuhan kita secara jasmani, emosional, mental dan spiritual.
Matius 7:11

3.    Kawan dan penasehat:
    Dialah yang rindu mempunyai persahabatan yang akrab dengan kita dan untuk memberikan nasehat-Nya yang bijaksana serta petunjuk-petunjuk-Nya kepada kita.
    “Engkaulah kawanku sejak kecil!” (Yeremia 3:4).
“… dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5).
“Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.” (Mazmur 73:24).

4.    Korektor:
Dialah yang mengoreksi (menegur) dan mendisiplinkan kita.
Ibrani 12:5-6,8,11

5.    Penebus:
    Dialah yang mengampuni kesalahan anak-anak-Nya dan mendatangkan kebaikan dari kegagalan dan kelemahan mereka; Dialah yang menyelamatkan.
    “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti Bapa sayang kepada anak-anak-Nya, demikian sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” (Mazmur 103:8, 12-13).

6.    Penghibur:
    Dialah yang mengasihi kita dan menghibur kita pada saat susah.
     “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan. Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami.” (2 Kor. 1:3, 34).

7.    Pembela dan pembalas:
    Dialah yang melindungi, membela dan membebaskan/melepaskan anak-anak-Nya Mazmur 91:1-3

8.    Bapa
    Dialah yang ingin membebaskan kita dari segala ilah palsu sehingga Ia dapat menjadi Bapa kita. ”Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, yang Maha Kuasa.” (2 Korintus 6:18).

9.    Bapa bagi yang tidak berayah:
    Dialah yang mempedulikan anak yatim dan janda.
    “Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah  di kediaman-Nya yang Kudus: Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara.”               (Mazmur 68:6-7).

10.    Bapa yang mengasihi:
    Dialah yang menyatakan Diri-Nya melalui Yesus Kristus.
    “Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.” (Yoh. 16:27).

Allah adalah Bapa yang menanti, Bapa yang mengasihi, dan banyak lagi! Ketika kita menghabiskan waktu bersama Dia, kita akan menemukan pandangan yang segar terhadap karakter-Nya dan kedalaman yang baru dalam hubungan dengan Dia.