“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5)

I. APAKAH TUJUAN KITA DILAHIRKAN KE DUNIA INI?

·    Sebelum kita dilahirkan, Allah sudah memiliki rencana yang besar kepada setiap kita (Yeremia 1:5, Roma 9:11). Kita diciptakan dengan tujuan yang khusus, untuk melakukan kehendak Allah, menyenangkan hati-Nya dan menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita.

·    Kita diciptakan bukan secara kebetulan, setiap kita lahir di keluarga, di zaman, ras, dll, yang telah Tuhan tetapkan buat kita, Allah merancangkan satu tujuan, satu kehidupan yang sempurna yang Allah mau kita cari dan temukan. (Yes 49:1, Gal 1:15, Rm 11:29)

·    Yesuspun datang ke dunia untuk suatu tujuan, yaitu melakukan kehendak Bapa, memberikan tubuh-Nya sebagai korban penebusan dosa (Ibrani 10:5-7)
 
Matius 3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Jadi: tujuan kita dilahirkan ke dunia ini adalah untuk menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita, yaitu menjadi serupa dengan Kristus dan memberitakan keselamatan kepada bangsa-bangsa

II. APAKAH PANGGILAN ITU?

ÿ    Panggilan berhubungan erat dengan tujuan hidup kita. Tujuan hidup kita secara umum adalah memberitakan keselamatan di dalam Yesus kepada bangsa-bangsa, panggilan mengarah kepada cara untuk menggenapi tujuan hidup kita secara umum. Misal: kita bisa  memiliki panggilan menjadi dosen, dokter, pengkhotbah, penginjil, karyawan, dll, tetapi  semuanya itu adalah cara untuk memuliakan Allah, menyenangkan hati Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan dan untuk memenangkan jiwa.

ÿ    Panggilan hidup kita sangat unik dan spesifik, seperti sidik jari, walaupun ada yang mirip, tetapi tidak ada yang sama. Panggilan juga seperti suatu identitas, banyak orang yang memiliki nama yang sama, tetapi identitasnya berbeda. Panggilan sangat unik dan hanya kita yang memilikinya. Walaupun ada yang memiliki panggilan sama sebagai pengusaha, pengkhotbah, belas kasihan, dll tapi yang seperti apa, gayanya bagaimana, tiap orang  pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Kalau kita tidak menemukan panggilan kita, berarti kita belum melakukan apa yang sebenarnya menjadi tugas kita, dan kita tidak menemukan identitas atau jati diri kita.

ÿ    Panggilan bukan merupakan suatu pekerjaan
Jika kita bekerja, maka kita mengharapkan upah sebagai imbalan, tetapi panggilan akan menuntut kita untuk membayar harganya. Misal seseorang yang memiliki panggilan dalam belas kasihan kepada orang-orang miskin, maka ia tidak akan mendapat “untung/upah” dari panggilannya, malahan ia harus memberikan/membayar harga berupa tenaga, dana, dll.

ÿ    Panggilan bukan merupakan bidang pelayanan
Artinya panggilan kita bukan berarti apa yang kita lakukan dalam bidang pelayanan sekarang walaupun kadang bisa juga bidang pelayanan kita adalah panggilan kita. Misal, seseorang bisa main musik dan melayani di bidang musik, belum tentu panggilannya adalah sebagai pemusik, bisa saja sebagai pengkhotbah, dll.

ÿ    Panggilan merupakan habitat terbaik untuk tinggal
Habitat bukan berarti rumah untuk tinggal, tetapi tempat dimana seseorang atau sesuatu biasa ditemukan, tempat dimana sesuatu bertumbuh secara alami. Bila kita hidup dalam habitat kita, maka kita dapat melakukan fungsi dan tugas kita secara maksimal dan menghasilkan buah nyata yang dapat dilihat karena kita menikmati tinggal dan mengerjakan sesuatu dalam habitat kita. Tinggal dalam habitat/panggilan kita bukan berarti tanpa masalah, kita bisa merasa capek, dll tapi kita memiliki gairah dan tetap bersemangat untuk melakukannya. Berbeda jika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan panggilan kita, kita akan selalu merasa tertekan dan tidak damai sejahtera.

ÿ    Panggilan merupakan jalur yang harus kita jalani sampai akhir
Filipi 3:13-14 à “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”
Dalam mencapai panggilan, pandangan kita harus selalu terarah ke depan dan tidak boleh membawa beban
Ibrani 12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
Panggilan membuat kita berlari dan tetap berjalan pada jalur Tuhan, walaupun menghadapi banyak tantangan, masalah, kelemahan dan kemustahilan, kita akan tetap melangkah dan berusaha mencapai dan menyelesaikan panggilan tersebut.   

III. CARA MENGENALI PANGGILAN MASING-MASING:

·    Kita dapat mengenali panggilan kita apabila kita telah mengenal Allah dan hidup dalam kebenaran Allah, 
     sehingga kita sadar bahwa semuanya adalah dari Tuhan dan untuk Tuhan (Roma 11:36), dan bukan untuk
     kepentingan diri kita sendiri

·    Kita harus mengalami pemulihan dan mengizinkan Tuhan untuk membereskan hati kita (Yeremia 6:5-7)

·    Kita tidak dapat mengenali panggilan secara instan tetapi perlahan-lahan, semakin lama akan semakin
     jelas. Panggilan adalah seperti puzzle yang kita susun satu persatu, sehingga lama-lama semuanya akan
     terlihat jelas gambaran secara keseluruhan

·    Panggilan Allah atas hidup kita pasti membangkitkan gairah dari Tuhan
     Jika kita berada dalam panggilan kita, maka ada sesuatu yang berkobar-kobar dalam diri kita, ada suatu
     semangat dan gairah yang tidak dibuat-buat, tetapi mengalir secara alami, sehingga apapun yang kita
     lakukan, kita lakukan dengan cinta

·    Panggilan yang dari Tuhan mengalir dengan wajar. Apa yang dilihat orang Kristen dewasa yang ada di
    dalam kita. Kita bisa meminta pendapat dari orang-orang yang lebih rohani dari kita (Amsal 15:22).
    Dalam  hal apa orang ingin berkumpul dan membantu kita. Apabila kita berjalan dalam kehendak Tuhan,
    maka akan semakin banyak orang-orang yang akan Tuhan kirimkan untuk membantu kita menggenapi
    rencana Tuhan

·    Kita pasti akan diperlengkapi dengan karunia-karunia untuk menggenapi panggilan hidup kita. Bahkan
     setiap karakter dasar sejak kita lahir, sudah Tuhan berikan untuk mempersiapkan panggilan kita.
     Seringkali  panggilan kita sesuai dengan karakter bawaan kita yang sudah dipulihkan, artinya karakter
    dasar kita memiliki kelemahan dan kelebihan, setiap sifat bisa menjadi kelemahan dan kelebihan, sehingga
    semua kelemahan harus diubah menjadi suatu kelebihan. Kita tidak boleh iri dengan panggilan orang lain
    dan suka membanding-bandingkan. Sejak kecil, kita pasti memiliki kesukaan melakukan sesuatu dan
    berkembang sampai kita dewasa. Misal seseorang yang selalu terharu dan menangis bila melihat orang
    miskin, orang terlantar, dll. Berarti Tuhan memberikan hati belas kasihan kepadanya, sehingga bisa saja
    panggilannya adalah untuk melayani orang-orang seperti mereka. Jadi sejak kecil, sebenarnya tiap kita
    sudah diperlengkapi dengan hati, kesukaan dan kemampuan untuk menggenapi panggilan kita. 

·    Panggilan Tuhan sejalan dengan pengalaman yang Tuhan buat dalam hidup kita
     Tiap orang memiliki kisah hidup dan pengalaman yang berbeda sejak kecil. Bagaimana lingkungan
     keluarga, peristiwa apa yang pernah mereka alami, seperti kepahitan, sakit, dll atau sejak kecil selalu
    dipilih dari pemimpin, kita sekolah dimana, dll. Semuanya Tuhan izinkan terjadi untuk memperlengkapi kita
    dalam menemukan dan menggenapi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Jadi jangan pernah memberontak
    kepada Tuhan terhadap apapun pengalaman masa lalu kita, karena semuanya tidak terjadi secara
    kebetulan tetapi supaya kita dapat memulihkan orang lain yang mengalami seperti kita.

·    Panggilan menghasilkan buah yang terbaik
     Matius 12:33. Bila kita berada dalam panggilan kita, maka kita pasti akan menghasilkan buah yang
     terbaik, karena kita telah berfungsi secara maksimal. Dari buah akan kelihatan apakah kita sungguh-
     sungguh atau sekadar asal-asalan saja. Dari buah, kita akan mengetahui seberapa jauh kita sudah
     mencapai panggilan kita. Kita bisa bertanya kepada orang-orang di sekitar kita, apa yang kita lakukan
     yang memberkati dan paling memberkati mereka, karena yang dinikmati orang adalah buahnya, bukan
     pohonnya.

·    Kesaksian roh
     Kita dipimpin melalui kesaksian Roh, untuk dapat mendengar suara Tuhan. Kesaksian roh adalah sumber
     pengetahuan, kesadaran dan kepekaan yang paling dapat dipercayai sehingga kita dapat mengetahui  
    dengan pasti ke dalam pelayanan apa Allah telah memanggil kita.

Hal ini dapat melalui beberapa cara:
-     Pimpinan melalui Firman Tuhan (2 Tim 3:16)Panggilan kita HARUS sesuai Firman Tuhan, jika tidak, maka itu bukan panggilan dari Tuhan, karena Firman Tuhan adalah pedoman utama hidup kita. Terkadang Tuhan bisa menyatakan suara-Nya melalui rhema, yaitu firman yang dihidupkan Roh Kudus ketika kita sedang membacanya. Setiap kita harus mendapatkan rhema Tuhan setiap hari melalui Firman Tuhan, yang akan membuat kita tenang apapun yang kita alami hari itu.
-     Melalui kepekaan telinga rohani (Yes 50:4c)Roh Kudus sendiri yang akan menunjukkannya jika kita tetap tinggal dalam Dia (1 Yoh 2:27)
-     Mendengarkan dari orang yang lebih dewasa rohani dari kita.Kita perlu berada dalam cover atau tudung dari seorang pemimpin rohani yang Allah tetapkan. Tetapi yang jadi masalah adalah banyak orang yang tidak mau menundukkan diri kepada pemimpin rohaninya, malah cenderung melihat kelemahan atau kekurangan pemimpin kita. Hal ini sangat berbahaya karena akan membuat kita keluar dari tudung rohani kita, dan akibatnya kita akan keluar dari kehendak Allah. Contoh: Kisah Raja Saul dan Samuel (1 Samuel 13:13-14). Pemimpin kita adalah orang yang Tuhan tempatkan sebagai wakil otoritas Tuhan atas kita, dengan tidak mendengarkan pemimpin kita, sama dengan tidak mendengarkan Tuhan.
-   Suara hati nurani (Ibrani 9:14, 10:22), hati yang berkobar
·   Pernyataan Tuhan melalui mimpi, nubuatan, tanda, karunia-karuniv    a
-   Kadang Tuhan bisa berbicara kepada kita melalui mimpi, tapi kita perlu menilai secara dewasa karena tidak semua mimpi berasal dari Tuhan. Ciri mimpi yang dari Tuhan: jelas, sangat berbekas, tidak menekan dan menuduh. Bisa arti sebenarnya, bisa secara simbolik, sehingga pasti ada penjelasannya, biasanya merupakan rambu-rambu yang Tuhan berikan, untuk mendeteksi apakah kita ada dalam kehendak Tuhan atau tidak. Mimpi dari iblis selalu menekan, menuduh, menakutkan dan membuat kita stress, karena tujuan iblis selalu ingin menghancurkan kita. Mimpi yang berasal dari diri sendiri: terjadi karena kita capek, terlalu memikirkan sesuatu hal sehingga terbawa dalam mimpi.
-     Nubuatan bisa datang melalui nabi (1 Tim 1:18), hamba Tuhan atau bahkan orang biasa atau melalui Firman. Yang perlu kita perhatikan adalah ketika nubuatan disampaikan apakah ada sesuatu yang berkobar di dalam hati kita, semacam lonjakan dalam hati kita, yang kita tahu pasti, ya, itu dari Tuhan dan akan jadi, suatu kesaksian roh. Jangan menuntut Tuhan berbicara seperti yang kita mau, karena Tuhan bisa berbicara kepada kita melalui cara apapun (Ayub 33:14). Nubuatan adalah suatu kemungkinan dan membutuhkan harga yang harus di bayar agar nubuatan itu terjadi, sehingga bisa saja nubuatan tidak terjadi apabila kita tidak taat dan tidak mau membayar harganya.

Cara memastikan suatu nubuat berasal dari Tuhan:
§    Mempunyai keyakinan ayat panggilan dan urapan dari orang yang menyampaikan pesan itu
§    Suatu nubuatan harus disampaikan di hadapan saksi-saksi lain yang dapat menilai apakah benar dari Allah
§    Nubuatan sejati dari Allah akan mengoreksi tanpa menghukum, tapi memberi nasehat, peringatan,
      membangun dan membangkitkan keberanian dan semangat baru untuk hidup kudus, suci dihadapan
      Tuhan Yesus.
§    Nubuatan harus sesuai Firman Tuhan
§    Suatu nubuatan meneguhkan apa yang sudah ada dalam roh kita (peneguhan sesuai panggilan yang kita
      dapat dari Tuhan sendiri)
·    Peringatan keras!!! “ Jangan dasarkan panggilan kita pada suatu perkataan nubuatan belaka, ujilah segala
     sesuatu dan lakukanlah apa yang baik ‘Allah akan meneguhkan Firman-Nya dengan tanda-tanda yang
     menyertainya (Markus 16:20)
-   Kita bisa meminta tanda dari Tuhan apabila akan membuat keputusan dalam hidup kita. Tuhan dapat
     memakai tanda-tanda alam atau simbolik untuk menyatakan kehendak-Nya. Beberapa hal yang perlu
    diperhatikan dalam meminta tanda adalah:

 1. Jangan pernah ditulis atau diucapkan tetapi hanya perjanjian kita dengan Tuhan, hanya Tuhan yang tahu, jangan sampai iblis mendengarnya.
2.  Buatlah tanda yang sulit, yang mustahil, jangan meminta tanda yang mudah digenapi. Hati-hati! Tuhan mengetahui motivasi kita meminta tanda, belum tentu tanda yang digenapi adalah dari Tuhan, karena bisa saja kita salah meminta tanda, dan kita berusaha menggenapi tanda itu demi mencapai tujuan kita dengan berdalih itu adalah kehendak Tuhan. Padahal Tuhan sebenarnya tidak pernah berkehendak seperti itu.
3. Apabila kita meminta tanda lebih dari satu, maka jangan terburu mengambil keputusan sebelum semua tandanya digenapi.

IV. JENIS-JENIS PANGGILAN:

Panggilan Tuhan bukan berarti harus menjadi hamba Tuhan. Tetapi Tuhan dapat memakai dalam berbagai aspek kehidupan kita.  Kita dapat dipanggil sebagai pengusaha sukses, dokter, akuntan, notaris, pendeta, penginjil, dll, asalkan semuanya memiliki tujuan yaitu membawa kemuliaan Tuhan, menegakkan kerajaan Allah di bumi ini, menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan.  Uniknya suatu panggilan menyebabkan walaupun sama-sama menjadi penginjil, ada penginjil untuk anak-anak, untuk orang desa, orang muda, para artis, jadi ada banyak jenis penginjil, karena tiap panggilan sangat unik dan berbeda-beda tiap orang.

V. CARA BERJALAN DALAM  PANGGILAN TUHAN

1.    Berani meninggalkan semua dan menjadi murid sejati-Nya (Matius 4:19-22). Panggilan atau rencana Tuhan merupakan sesuatu yang sangat berharga, dirancang khusus oleh Allah untuk kebahagiaan kita yang sempurna apabila kita mau masuk ke dalamnya. Sehingga kita harus mau meninggalkan semuanya, kedagingan kita, keinginan duniawi kita, dll

2.    Seberapa besar kita menginginkan panggilan, sebesar itulah kita akan mendapatkannya. Jika kita tidak sungguh-sungguh menginginkan panggilan itu dan tidak berani membayar harganya, maka iblis akan mengambil itu dari tangan kita. Seringkali kita berdoa dan bertanya kepada Tuhan, apakah panggilan hidup kita, tetapi ketika Tuhan mulai membukakan sesuatu, kita berkata, “Apakah benar itu panggilan saya?”, “Bukankah itu tidak sesuai dengan saya?”, “Saya tidak suka yang model begitu!”, karena kita ada dalam zona nyaman kita dan tidak mau membayar harganya. Kadang panggilan kita adalah sesuatu yang tidak kita suka secara daging, apalagi apabila kita harus kehilangan semuanya demi mencapai panggilan kita, mungkin kita harus kehilangan impian kita menjadi pengusaha dunia yang kaya raya, menghadapi  tantangan dan masalah dengan orang tua, dll.

3.    Panggilan tidak pernah berhenti di satu titik, tetapi seperti puzzle, ada banyak kepingan yang dapat kita kumpulkan dan kita susun satu-persatu sampai akhirnya seluruh panggilan kita tergenapi dengan sempurna menjadi suatu gambaran yang utuh dan jelas. Jangan pernah merasa nyaman dalam kondisi kita, tapi kita mau naik lebih lagi sampai ke panggilan tertinggi kita dan mau membayar harganya lebih lagi. Kita harus berani melangkah dan tidak dikuasai ketakutan (2Tim 1:7), karena kalau kita tidak mau melangkah, maka jalan kita dapat malah mundur atau berputar-putar sehingga rencana Tuhan dalam hidup kita menjadi tertunda. Jangan pernah takut untuk gagal, untuk mencapai suatu visi, panggilan hidup kita, bukan merupakan suatu hal yang mudah. Kita harus memiliki mental pemenang, pantang menyerah, apapun yang kita alami dalam proses menemukan dan menggenapi panggilan kita.

4.    Memiliki ketaatan mutlak kepada kehendak Tuhan (Kolose 3:22-23). Allah menguji kita melalui ketaatan kita. Firman Tuhan berkata, “Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilannya”. Apabila Tuhan sudah memberikan panggilan dalam hidup kita, Dia tidak akan menariknya kembali, Dia tidak akan menyesali apapun yang kita lakukan. Tetapi seperti perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) ada yang diberi 5, 2 dan 1. Allah tidak mungkin meminta talenta itu di tengah jalan. Talenta atau panggilan itu tetap ada dalam diri kita walaupun kita adalah orang bebal. Banyak orang bebal yang tidak mengerti panggilannya, talentanya terus dipendam dan tidak dikembangkan. Akibat hal ini sangat fatal dan berbahaya (Matius 7:21-23). Apabila kita tidak mau taat melakukan panggilan kita dengan sungguh-sungguh, maka rencana Tuhan dalam hidup kita dapat tertunda, bahkan dapat digantikan dengan orang lain, talenta dari orang yang memiliki 1 talenta diberikan kepada orang yang memiliki 10 agar dikembangkan (digantikan)

5.    Hidup berpadanan dengan panggilannya masing-masing (Efesus 4:1)
Hidup berpadanan dengan panggilan hanya dapat kita lakukan jika kita memiliki hati seorang hamba, seluruh harta terpendam itu dapat kita temukan jika kita memiliki hati seorang hamba. Untuk ini kita harus mau dibentuk dan diproses sampai direndahkan, diremukkan sehingga daging kita tidak bersisa lagi.
·    Menjadi hamba sejati berarti tidak pernah meremehkan setiap perkara. Kita belajar untuk setia dalam perkara kecil, mau melakukan hal-hal sepele. Jangan menjadi sombong, merasa dirinya sudah pelayan Tuhan, koordinator, pemimpin, sehingga tidak mau mengurus hal-hal kecil, justru semakin kita diangkat Tuhan tinggi, maka kita semakin rendah. (Matius 25:21)

·    Hamba sejati tetap sederhana. Semakin kita di atas, kita semakin melayani, bukan dilayani (Matius 20:26-27). Sederhana artinya, kita bisa turun seberapa pun kita harus turun.
·    Hati seorang hamba tidak akan bergantung pada fasilitas yang Tuhan beri. Fasilitas dapat menjadi tempat pijakan untuk kita naik lebih tinggi dan masuk lebih dalam di dalam panggilan kita atau fasilitas dapat juga menjadi kuburan bagi kita.
·    Hidup berpadanan dengan panggilan juga berarti bahwa kita harus melakukan persiapan diri sesuai dengan panggilan. Yaitu mau belajar dan memperbesar kapasitas kita untuk diisi lebih lagi dengan karunia dan kemampuan. Contoh: seorang yang mengerti bahwa ia dipanggil menjadi penginjil, maka harus mempersiapkan dirinya juga dengan jalan menyelidiki Firman Tuhan, bergaul erat dengan Tuhan, memperluas pengetahuan, dll (jangan menyalahkan Tuhan jika panggilannya gagal, karena ia tak mau dipersiapkan). 

6.    Karakter yang berbuah, bertumbuh  (2 Pet 1: 3-11)

7.    Hidup dalam panggilan memerlukan hikmat. Hikmat lahir dari hati Tuhan Yesus sendiri, hikmat adalah Yesus sendiri. Tanpa hikmat semua rencana Allah bahkan semua kelengkapannya, baik karunia-karunia, berkat-berkat Allah untuk kehidupan kita bisa dibengkokkan, dibuat mandul, dipatahkan, dengan tidak menghasilkan dampak yang sempurna.
Contoh:
Ø    Bila kita memiliki karunia hikmat, jangan langsung menegur orang di depan umum. Karunia harus digunakan untuk membangun, memperkuat, mengangkat kita, bahkan memperkaya kita secara jasmani dan rohani. Tanpa hikmat, karunia dapat menghancurkan kita.
Ø    Hamba Tuhan atau pelayan Tuhan jangan mengabaikan keluarga. Hikmat sangat penting untuk menjaga kita tetap seimbang dalam rencana Tuhan, karena akan membuat kita mengerti apa yang menjadi prioritas, juga apa yang perlu kita kerjakan dan tidak.
Ø    Bila kita dipanggil menjadi hamba Tuhan padahal kita masih bekerja, Tanya Tuhan dulu, jangan langsung meninggalkan pekerjaan dan jadi fulltime.
 
8.    Setia sampai akhir (Gal 3:2-4)   

9.    Percaya bahwa Allah menyediakan semua nya untuk menggenapi panggilan kita.

10.    Allah memberikan lebih besar daripada impian pribadi kita. Seringkali kita merasa bahwa Tuhan mengambil semua impian kita, tetapi apabila kita berjalan sesuai rencana Tuhan, ternyata impian itu bukannya hilang, tetapi digantikan dengan sesuatu yang lebih besar.

VI. HAMBATAN DALAM BERJALAN DALAM PANGGILAN

1.    Kesombongan dan kebebalan (Ibrani 3:7)
2.    Keminderan (1 Kor 1:25-29)
3.    Ketidaktaatan pada Allah dan tidak percaya sepenuhnya

VII. AKIBAT LARI DARI PANGGILAN TUHAN

1.    Tidak dapat menggenapi rencana/Impian Allah yang ditetapkan-Nya
2.    Tidak dapat menikmati kepuasan hidup yang sesungguhnya
3.    Tidak hidup dalam damai sejahtera, Contoh: Yunus (Yunus1:4)
4.    Murka Allah, Contoh: Musa yang tidak mau menerima panggilan Allah (Kel 4:10-14)