“Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” (Mazmur 149 : 4)

Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri atau mencari pujian bagi diri sendiri, tetapi  "...menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;"  (Filipi 2:3b).  Orang yang rendah hati adalah orang yang rela melayani karena menyadari bahwa dirinya adalah hamba. Rendah hati juga bisa diartikan sebuah sikap untuk selalu terbuka dalam mendengarkan nasehat, mau dikritik dan menerima masukan. Terkadang diri kita pun masih sulit untuk menerima kritikan atau masukan yang bahwasanya kritikan atau masukan itu adalah sebuah KEBENARAN tentang diri kita. Kita cenderung mengabaikan kritikan / masukan tersebut, terlebih lagi jika yang menyampaikan adalah orang yang lebih muda, lebih rendah posisi / jabatannya, atau mungkin dari atasan / pemimpin kita bahkan dari TUHAN sendiri yang seharusnya kita taat pada-Nya. Banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini.  Karena kaya, kita menjadi tinggi hati dan menganggap rendah orang lain yang di bawah kita;  ketika pelayanannya sudah berhasil dan menjadi hamba Tuhan, tidak sedikit yang menjadi lupa diri.  Sikap kita pun mulai berubah, pilih-pilih ladang pelayanan, mau melayani asal fasilitasnya memadai dan lain-lain.

Kerendahan hati juga jadi salah satu syarat utama yang harus dimiliki seorang pemimpin, karena hanya dengan kerendahan hati ia mampu memahami setiap permasalahan yang dihadapi. Mari kita ambil contoh dari Daud. Daud memiliki hati yang luar biasa. Berbagai masalah dilalui oleh Daud dengan penuh penderitaan tetapi juga selalu penuh dengan kemenangan. Kuncinya ada di kerendahan hati yang Daud miliki. Kerendahan hati membuat Tuhan berkenan kepada kita. Dia melihat orang-orang yang rendah hati dan mencurahkan berkatNya bagi mereka.


“Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk.
Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya.” (2 Samuel 16:5-6)
 “Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.”
Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?”
Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.”(2 Samuel 16:9-12)

Sikap yang ditunjukkan Daud pada saat ada orang yang mengutuki dan melempari dia dengan batu inilah contoh dari rendah hati. Jika hal ini terjadi pada jaman sekarang dimana ada orang yang menghina secara langsung pemimpin negara dan melemparinya dengan benda-benda keras, kita tentu sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan orang tersebut.
Tetapi sekali lagi Daud menunjukkan bahwa dia tidak menggunakan kekuasaannya, posisinya dan haknya sebagai raja untuk menangkap, menghukum atau bahkan menghabisi nyawa orang tersebut. Mari kita belajar dari kerendahan hati yang dimiliki oleh Daud. Belajarlah untuk mengucap syukur untuk keadaan apapun yang terjadi dalam hidup kita. Ketahuilah bahwa ketika kita tertindas dan kita merespon dengan segala kerendahan hati, maka Tuhan akan melihat keberadaan kita.

Yesus merupakan teladan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati.  Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Oleh karena itu pelayanan-Nya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.

Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.

Yesus saja rela membasuh kaki murid-muridNya (Yohanes 13:1-20) dengan tujuan supaya kita meneladani Dia. Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri.

Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah” (Mazmur 37:11). Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya.
“Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”(Yesaya 57:15)


Marilah kita belajar untuk lebih rendah hati, kita tahu terkadang hal itu sulit karena ego dan emosi kita. Tapi hal ini bisa dibentuk hari demi hari dengan pertolongan Tuhan sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya menjadi salah satu karakter kita. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus !

Nurcahya Santoso (Kwang)
Kelas Misi Menorah Mision Center (MMC)
Kelompok Erastus