RSS
Container Icon

Yudas Si Pengkhianat

"Sejahat itukah Tuhan sehingga Dia menetapkan murid-Nya sendiri binasa dengan ditetapkan menjadi pengkhianat?!"
Pertanyaan ini sering muncul dalam diri kebanyakan orang jika kita mendengar nama YUDAS. Seseorang yang dipilih oleh Yesus sendiri menjadi murid-Nya, 3 tahun berjalan dan bergaul bersama Yesus. Murid yang juga telah melihat semua yang dikerjakan Yesus dan mendengar semua pengajaran-Nya. Mengapa nasib Yudas begitu malang??

Mari kita membayangkan Yudas, seorang pria yang dikenal di Alkitab sebagai bendahara murid-murid Yesus, seorang yang melarang wanita mencurahkan minyak wangi mahal kepada kaki Yesus dengan alasan untuk orang miskin, seseorang yang makan perjamuan makan malam dengan Yesus dan setelah itu kerasukan roh jahat dan segera pergi untuk menawarkan pengkhianatannya kepada orang Farisi dan ahli Taurat.
Dari seluruh kisah dalam Firman Tuhan, kita bisa mengenal Yudas sebagai orang yang keras kepala, ambisius, dan kurang murni hatinya. Hal itu diungkapkan Yesus saat menegurnya dan murid-murid-Nya berkenaan dengan minyak wangi itu (Yoh 12:1-8) adalah karena Yudas adalah seorang pencuri! Wow, murid Yesus adalah pencuri!

Jika kita mengingat Yudas, pikiran kita akan sangat buruk kepadanya, belum lagi jika mengingat pengkhianatannya kepada Gurunya sendiri, maka mungkin kitapun dapat membenci Yudas ini. Benarkah kita juga tidak seperti Yudas?

1.    Munafik
Dalam Yohanes 12:1-8 diceritakan kisah Yudas yang melarang wanita yang sedang  mengurapi kaki Yesus dengan alasan uangnya itu dapat digunakan untuk membantu fakir miskin. Kelihatan rohani, bukan? Sikap ini bisa juga terjadi pada diri kita sendiri. Apakah itu? Sikap kepedulian palsu, melakukan sesuatu yang dibungkus dengan hal yang berbau rohani dan kebaikan, tetapi sebetulnya hatinya kotor. Banyak cerita yang saya dengar sendiri dari orang-orang yang merasa orang Kristen itu munafik. Mengapa? Karena mereka menjadi kecewa dengan sikap-sikap yang tidak menunjukkan terang Kristus. Mereka beribadah dan berbahasa roh lebih kencang, tetapi hidupnya tidak ada buah-buah yang manis. Lebih mudah menunjuk orang lain daripada melihat kesalahan diri sendiri. Tentunya orang Kristen bukanlah orang yang harus sempurna, tetapi Tuhan mengajarkan kita menjadi buku yang terbuka, sehingga Tuhan dapat membentuk kita dari kelemahan kita tanpa kita harus menutupi kelemahan atau bahkan dosa itu dengan merohanikan segala sesuatu.


Sikap merohanikan segala sesuatu kelihatannya rohani, tetapi itu membawa kita kepada kemunafikan. Jangan juga sembarangan mengatasnamakan Tuhan untuk sesuatu yang menjadi kepentingan diri kita sendiri.

2.    Pencuri
Jabatan yang cukup bahaya bagi kita yang sedang memegang uang kas gereja, uang persekutuan atau yang lainnya, jika itu berkenaan dengan uang yang menjadi kepentingan Tuhan, maka kita perlu ekstra hati-hati. Janganlah keteledoran kita, apalagi kesengajaan kita untuk mengambil atau korupsi uangnya Tuhan! Ini berkaitan bagaimana menjadi bendahara yang jujur dihadapan Tuhan. Saya melihat bagaimana kebiasaan ”korupsi” kecil-kecilan dengan anggapan ”meminjam uang” dari kas Tuhan untuk kepentingan diri sendiri ini, akan mendatangkan celah bagi kuasa gelap juga dalam kehidupan kita. Kita bisa saja menjadi pencuri! Hamba Tuhan yang  lebih mementingkan nama dan kepentingan gerejanya sendiri daripada Kerajaan Allah yang sesungguhnya, maka dia adalah seorang pencuri kemuliaan Tuhan. Seorang pemain musik, wl, singer, penari, yang menganggap hadirat Tuhan disebabkan oleh karena mereka telah bermain dan bernyanyi sangat baik, maka sesungguhnya merekapun telah mencuri kehormatan Tuhan, karena segala sesuatu adalah dari Dia dan untuk Dia. Tidak ada satupun manusia yang dapat membuat pertumbuhan. Pertumbuhan, lawatan, kebangunan rohani adalah hak prerogatif dari Allah sendiri. Tugas kita adalah mengosongkan diri menjadi hamba-Nya yang mau dipakai-Nya sesuai dengan kehendak-Nya saja.

3.    Kebenaran diri sendiri
Kebenaran Firman Allah adalah mutlak dan dalam kebenaran itu kita dimerdekakan. Beda dengan kebenaran diri sendiri. Kebenaran diri sendiri ini membuat seseorang bertindak berdasarkan apa yang dianggapnya paling benar dan paling baik untuk dirinya sendiri atau orang lain. Orang-orang ini, termasuk kita, bisa memutar balikkan kebenaran Firman Tuhan dan menjadikannya sesuai dengan kemauan kita sendiri. Penyesatan akhir zaman yang melegalkan kaum Gay, atau menyetujui pernikahan poligami dengan mengutip ayat-ayat Firman Tuhan, akan menjadi suatu penyesatan yang diakibatanya kebenaran diri sendiri.

Yudas bisa saja menganggap sedang membantu Yesus dalam misi besar-Nya dibumi untuk mendirikan Kerajaan-Nya. Yudas bisa saja berpikir bahwa dengan dia menyerahkan Yesus, maka tiba-tiba Yesus akan menunjukkan kuasa-Nya dan membuat seluruh Israel terjadi ”kebangunan rohani” dan pembebasan besar dari orang Romawi. Coba kita pikirkan, kita tujuan Yudas untuk membunuh Yesus, saya rasa dia tidak perlu menyesal dan bunuh diri saat melihat Yesus hampir meninggal di atas kayu Salib. Dia akan hidup dengan makmur dengan hasil penjualan Yesus itu tanpa merasa bersalah. Kemungkinan besar tujuannya menyerahkan Yesus adalah mencoba membantu Yesus menegakkan Kerajaan-Nya di Israel....baik...sekali lagi, rohani...tetapi dengan cara dan kebenaran diri sendiri, semuanya akan salah.

Lalu pertanyaannya, ”Bukankah memang Yudas harus menyerahkan Yesus agar terjadi penyaliban itu?” Mungkin pendapat itu benar juga, tetapi ingatlah bahwa Allag tidak pernah menetapkan seseorang untuk binasa. Keputusan manusialah yang memilih dosa dan maut sehingga manusia terpisah dari Allah.
Apakah Tuhan mengetahui bahwa Yudas akan menyerahkan-Nya untuk disalib? Saya percaya, ya! Tuhan Yesus telah mengetahuinya. Seseorang teman menjelaskannya kepada saya bahwa “Tuhan telah mengetahui segalanya, tetapi karena kasih sayang-Nya yang besar, Dia seolah tidak menggunakan “tahu”nya itu untuk menghadapi kita, tetapi Dia membiarkan manusia itu untuk memilih dan kesempatan untuk diubah”

Mengetahui kebenaran ini, kita bisa mengucap syukur kepada Allah, karena ternyata walaupun Dia tahu dosa dan kelemahan kita, tetapi Dia mau memberikan kasih dan kesempatan buat kita untuk menjalani apa yang benar dan berkenan dimata-Nya. Jangan anda ragu bahwa anda orang pilihan Allah, tetapi anda selalu merasa gagal dan tidak berarti apa-apa, sehingga tindakan andapun tidak mencerminkan sebagai seorang pilihan. Pikiran awal dan kebenaran diri sendiri anda mengatakan “aku akan gagal, ujung-ujungnya aku tidak akan dapat mencapai itu..” maka jadilah seperti perkataan anda sendiri.

Allah memberikan kita kesempatan, seperti dalam poin ke empat dibawah ini.

4.    Pertobatan dengan kekuatan sendiri
Yudas yang sangat hancur dan sedih, melihat Yesus tersalib puncak bukit Tengkorak itu. Dia memandanginya dari jauh dan terus berharap agar Yesus menunjukkan kuasa-Nya di detik-detik terakhir sebelum semua impiannya dan bangsa itu hancur bersama kematian Yesus. Dia tidak menginginkan kematian Yesus seperti itu..tetapi nasi telah menjadi bubur, penyesalan tiada lagi berguna. Dia merasa bahwa kekacauan dan kematian Yesus adalah karena dirinya, dirinya dan dirinya! Sehingga dia tidak sanggup lagi hidup dan mengampuni dirinya sendiri. Rasa malu, sedih, depresi, rasa bersalah yang luar biasa menghantui detik demi detik dalam hidup Yudas. Akhirnya…..tak sanggup menahan semuanya itu, dia memutuskan untuk menggantung dirinya sendiri dan mati.

Pernahkah anda merasa sebagai perusak rencana Allah? Sebagai pengganggu dan sebagai penyebab semua kekacauan yang terjadi? Bagaimana jika hal demikian terjadi pada anda? Anda tidak berniat merusakkan semuanya tetapi tiba-tiba entah roh apa yang sedang menguasai anda, anda melakukannya dan semua hancur ditangan anda sendiri, pernikahan anda hancur, keluarga, pekerjaan, cinta, dan pelayanan hancur.

Malam sebelum Yesus diserahkan (Yoh 13:27), disebutkan bahkan setelah menerima roti dan anggur dari Yesus, dia kerasukan iblis. Bagaimana bisa? Seorang murid Yesus dirasuk iblis? Dirasuk memiliki pengertian juga bahwa seseorang itu sangat dikuasai oleh roh jahat, sehingga jiwanya bahkan tubuhnya bisa melakukan hal-hal di luar keinginan rohnya dan Roh Allah. Lepas kontrol, dan keinginan hati Yudas yang sudah ditunggangi kuasa gelap menyebabkan semua itu. Yudas memiliki celah yang tidak pernah dibereskannya selama mengikut Yesus. Mengenal Yesus saja tidak cukup. Pemberesan dan pembongkaran akan sangat penting daripada kita mempertahankan kebenaran diri sendiri. Saudaraku, berhati-hatilah dengan celah ini, sehingga iblispun dapat menunggangi kita melakukan yang dia mau.

Apakah Yudas bertobat? Iya, nampaknya dia menyesali dosa-dosanya, pembenaran diri sendirinya, dan dia sangat menyesal, dia bertobat. Tetapi sayang, pertobatannya adalag sekali lagi karena kekuatannya dan kebenaran diri sendirinya yang lain lagi, dia mungkin berpikir ”aku bertobat, aku menyesal telah membuat Yesus meninggal, aku tidak dapat diampuni lagi, aku akan mati bersama-sama dia, aku layak mati, aku tidak pantas hidup..” dan lain sebagainya. Rasa penyesalan dan pengasihanan diri yang berlebihan bukan datang dari Roh Allah, apalagi pertobatan yang palsu. Kelihatannya Yudas bertobat, tetapi sesungguhnya dia sedang mengadakan penghukuman bagi dirinya sendiri seolah dia adalah hakimnya. Apakah kita tidak sering juga melakukan hal ini?

Menghukum diri sendiri? Tidak dapat mengampuni diri sendiri, sementara Allah pastilah mau mengampuni dosa kita jika kita bertobat berdasarkan kasih karunia Allah?
Jika kita telah merusak rencana Allah yang indah itu, pastilah Bapa memiliki cara untuk memperbaikinya dan menjadikannya sebagai kebaikan bagi yang mengasihi Dia, bukan?
Yudas seolah bertobat, tetapi tidak pernah kembali kepada Kristus.

Mari belajar sama-sama tentang Yudas, akhir yang mengenaskan seharusnya dapat diganti dengan cerita yang baru;
Yudas bertobat sungguh-sungguh, menangis sepanjang malam itu, mungkin sedikir mengurung diri pada hari Sabat keesokannya. Bertahan dalam peperangan pikirannya dan intimidasi iblis, atau mencoba mengingat-ingat kembali perkataan Yesus bahwa akan ada kebangkitan pada hari ke-3..andai Yudas mau bertahan saja dalam peperangan dirinya sendiri waktu itu...andaikan itu terjadi. Lalu Keesokannya lagi, pagi-pagi, sudah tersiar kabar sukacita bahwa Yesus sudah bangkit! Saya percaya, mungkin Yudaslah yang akan paling bahagia dan melonjak kegirangan karena kebangkitan Yesus itu dan itu semakin membuatnya merasa yakin siapa Yesus itu dan diapun akan dapat menjadi saksi yang luar biasa dipakai oleh Bapa. Kisah yang indah, bukan? Harusnya mungkin demikian, tetapi Yudas tidak dapat lagi bertahan dan memilih untuk mati bunuh diri.

Ada kalanya dalam kehidupan ini, kita tidak bisa menyerang atau membantah lagi. Kita hanya bisa bertahan dan bertahan, maka bertahanlah sekuat mungkin dan janganlah menggunakan kebenaran sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah. Diamlah dan nantikanlah Dia, Dia pasti mengampuni kita yang mau kembali kepada-Nya, seburuk apapun sifat dan karakter kita, seberapapun kita sudah kotor, Allah mau mengampuni dan memulihkan kita semua. amin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Calvin Gradus FP mengatakan...

sisi lain melihat YUDAS .... makasih untuk renungannya ... :)

Etmy Tatengnge mengatakan...

Boleh minta naskah drama tentang pertobatan yudas?

Posting Komentar