Di tahun yang baru ini marilah kita memulainya dengan sesuatu yang benar dihadapan Allah. Tuhan merindukan supaya jemaatNya ditahun ini memiliki karakter yang diubahkan menjadi serupa dengan karakter Allah. Pada kesempatan kali ini kita akan berbicara tentang
HATI YANG KERAS. Untuk bisa menyelaraskan pola pikir kita dengan pola pikir Tuhan, kita harus belajar untuk tidak memiliki hati yang keras atau memberontak Pemberontakan bisa berarti tidak menempatkan Tuhan sebagai Tuhan, bisa juga berarti kita tidak sedang memahami kasih dan kedaulatan Tuhan. Contohnya kita sudah tau, kita dipanggil untuk menjadi penari, tetapi kita berusaha untuk menjadi pengkhotbah. Ini berarti kita sedang memberontak terhadap kedaulatan Tuhan. Saul merupakan salah satu contoh orang yang memiliki hati yang keras.
Mari kita buka 1 Samuel 23:1-7.
“Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul :”Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya” (1 Sam 23:7)
Saul sudah kehilangan akal sehatnya, ia sudah tidak bisa membedakan kehendak Tuhan atau bukan kehendak Tuhan. Saul berkata Allah telah menyerahkan Daud ke dalam tangannya. Bahkan dia mengatakan hal tersebut kepada semua orang. Orang yang memberontak dan hatinya sudah keras, akan sering memakai nama Tuhan untuk membenarkan diri sendiri dan merasa Tuhan sedang membela kita. Misalnya ada seseorang yang sudah melukai kita, saat seseorang itu mengalami bencana atau kejatuhan, maka kita akan berkata bahwa dia memang salah makanya terjadi hal itu, sedangkan kita yang benar, ini adalah ciri-ciri orang yang hatinya keras. Racun ini tidak boleh ada dalam hati setiap anak Tuhan, kita tidak boleh kaku, dan memiliki sikap hati yang negatif, saat kita melihat seseorang sedang dalam keadaan terjepit, bagaimana dengan sikap hati kita? Untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan itu tidak mudah.