Evie Mehita
Sang anak bungsu tercinta yang biasa hidup dalam RUMAH BAPAnya, menikmati semua kasih, berkat dan fasilitas bapanya, sekarang telah menjadi pengemis yang menyedihkan. Seringkali kita juga tidak menyadari keadaan kita bahwa kita sudah jatuh dan menjadi miskin dan bahkan pengemis bagi dunia ini. Kita adalah anak Raja! Kita adalah anak Bapa, tetapi semua mulai hancur saat sang anak memilih PIKIRAN yang salah, yang mengakibatkan KEPUTUSAN yang fatal.
Semua dimulai saat anak bungsu ini mulai memikirkan HAKnya sendiri, dia merasa BERHAK atas apa yang bapanya berikan. Apakah kita juga merasa bahwa kita memiliki HAK atas apa yang Bapa berikan? Semua adalah dari Dia. Tapi kita mulai berpikir “ah, harusnya aku berhak mendapat mobil, rumah, uang…aku kan sudah melayani Bapa!”, “harusnya aku diberikan pasangan hidup sekarang, aku sudah sangat butuh, sudah waktuku….mengapa Bapa belum memberikannya kepadaku?” dll.
Seringkali kita berpikir kita punya HAK atas kehidupan kita dan mulai mengatur Bapa atas apa yang terbaik bagi diri kita sendiri. Kita mengatur waktu yang terbaik bagi kita, merasa bahwa kita sudah berjasa dan berhak atas apa yang kita miliki dan lakukan. Uang, harta, hubungan, kekasih, anak, suami, istri, orang tua, pekerjaan, pelayanan kita adalah milik Bapa.
SIAPAKAH YANG MEMILIKI HAK ATAS HIDUP KITA??
Setelah PIKIRAN yang salah dan membayangi dia ini tidak ditakukkannya segera, maka anak bungsu mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya. Dia meminta haknya dan segera PERGI ke NEGERI YANG JAUH. Apa yang terjadi saat Bapa memberikan apa yang diminta oleh anak kesayangannya ini? Anaknya pergi dari rumah bapa dan merasa bahwa sudah saatnya dia MANDIRI dan BERUSAHA sendiri!
Apa ini juga yang terjadi dalam hidup kita? Setelah kita mulai mengatur Bapa dan merasa berhak atas hidup kita dan semua yang kita miliki, kita bukannya malah mendekat dan memberikan semua kembali kepada Bapa, tetapi malah pergi MENJAUH dari Bapa. Inilah “DOSA KEMANDIRIAN” yang akan membuat kita hancur. Kita tidak dapat berbuat satu apapun diluar Bapa, kita hanyalah ranting dan Dialah Carangnya. Kita mulai berpikir sendiri, bekerja sendiri dan kita tidak lagi mengandalkan Bapa.
Seperti halnya saat bapak Abraham dan Saraidijanjikan anak perjanjian oleh Allah YHWH, Sarai mulai berpikir bahwa dia tidak mungkin dapat memberikan keturunan kepada suaminya dan tidak mungkin janji Bapa digenapi lewat dia yang sudah lanjut usia dan mandul. Dia bersama suaminya jatuh dalam “Dosa Kemandirian” ini dan merasa dapat MEMBANTU TUHAN dalam menggenapi janji-Nya itu.







