ada kasih yang terus berkumandang,
tidak pernah berhenti,
ada suara dorong ku berani maju,
Roh Kudus memimpin hatiku.
melangkahlah ke Yerusalem,
kesulitan berteguh tekad,
ku b'ritakan nama-Mu Tuhan,
untuk masuk di Kerajaan-Mu.
ku bawa amanat Kristus,
bangunkan Greja Yang Lesu,
meski banyak hambatan,
tak akan berputus asa.
kubawa visi trus maju,
tuk lihat Gereja-Mu tumbuh,
kabarkan Injil ke seluruh pelosok.
Gereja Yang Bermisi (Huan Xing Zhu De Jiao Hui)
Dinyanyikan oleh Herlin Pirena
Gereja Yang Bermisi (Huan Xing Zhu De Jiao Hui)
PAULUS, SANG BUDAK KRISTUS
Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Roma 1:1
Paulus adalah seorang Rasul besar yang mengalami perubahan hidup yang fantastis dari seorang pembunuh umat Tuhan menjadi Pemberita Injil Kristus. Paulus menyebut dirinya sebagai Budak Kristus. Dahulu dia adalah budak dari pikiran dan pembenarannya sendiri. Dia merasa bahwa dengan menganiaya orang-orang kudus Tuhan, maka dia sedang menjalankan perintah Firman Tuhan yang ada dalam Hukum Taurat. Dia menjadi orang dalam garis keras dan brutal dalam mengejar umat Tuhan diseluruh penjuru, membunuh, memasukkan orang-orang ke dalam penjara dan menganiaya mereka.
Perubahan besar terjadi ketika dia alami perjumpaan dengan Kristus yang mulia. Dia menyadari siapa dirinya didalam Tuhan, yaitu seorang pembunuh yang tidak layak namun dilayakkan untuk menjadi anak-Nya sekaligus saksi-Nya.
Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Yoh 8:33-34
Seringkali kita tidak menyadari keadaan kita. Mungkin sebenarnya kita diikat oleh roh perbudakan namun kita masih merasa bahwa keadaan kita baik-baik saja. Kita bisa melayani, kita bisa melakukan semua yang kita anggap baik, namun sesungguhnya kita sedang diperbudak oleh keinginan kita sendiri. Ada orang-orang yang diperbudak oleh perasaannya, perasaannya selalu mendominasi dalam segala hal. Ada banyak orang juga yang diperbudak oleh emosi dan pikirannya. Pikiran, emosi, perasaan adalah tuhan yang menuntunnya pada keinginannya sendiri dan menggeser posisi Tuhan didalam hidupnya.
PERKARA DI ATAS
Bagaimana supaya kita tidak diperbudak oleh yang lainnya? Kita harus melatih diri kita hanya berfokus kepada Kristus, Sang Sumber Kehidupan. Carilah perkara diatas dan serahkan semua kekuatiran duniawi kita kepada-Nya, Dia yang sanggup memelihara dan merancangankan rancangan sempurna dalam hidup kita.
Obat Kebenaran
Keteguhan Dalam Panggilan
1:10. Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan
manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya
aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
DIPAKAI
Hidupmu dapat dipakai sebagai alat Bapa..atau untuk alat iblis..
PUTERI SION YANG TERTAWAN
52:2 Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan!
Yesaya 52:1-2
Apakah anda sungguh-sungguh menjadi ORANG BEBAS?
Banyak orang berperilaku seperti orang yang bebas dalam hidupnya, tapi sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sedang diikat kuasa Gelap. Ada yang diikat kakinya sehingga tidak dapat berlari menuju kehendak Bapa, ada yang terikat tangannya, sehingga tidak dapat berkarya bagi Kerajaan-Nya. Ada juga yang terikat pada leher, punggung, tangan, dan iblis membuat mereka lumpuh, buta, dan tidak bebas untuk hidup bagi Kerajaan-Nya.
Dalam kisah di Yesaya 52:1-2 dikisahkan kisah yang sangat indah dan luar biasa dari Bapa kita yang begitu mengasihi umat-Nya dan merindukan umat-Nya dibebaskan dari semua belenggu-belenggunya. Tuhan menggambarkan Umat-Nya sebagai Puteri Sion yang sedang tertawan. Apakah kita sedang menyadari keadaan kita sekarang? Apakah anda benar-benar bebas untuk hidup dan berkarya bagi Bapa? Ataukah kita sedang terikat oleh sesuatu dan tidak dapat maksimal untuk Kerajaan-Nya?
TERJAGALAH !!
Utusan datang kepada Puteri Sion ini..puteri Sion yang tertunduk lesu dan lemah, terkurung dalam ikatan dosa dan keletihan yang sangat. Utusan ini berteriak kepada Puteri Sion “ Terjagalah! Terjagalah!”. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk membangunkan yang tertidur dan menyadarkan dari keadaannya.
Apakah anda pernah dibangunkan orang tua anda saat masih kecil untuk segera berangkat ke sekolah? Jika waktu ke sekolah masih luang, maka orang tua akan membangunkan kita dengan lembut agar kita segera bangun dan bersiap-siap. Namun jika waktunya begitu sempit, maka kita akan dibangunkan dengan keras dan segera agar kita tidak bermalas-malas dan segera sadar bahwa kita akan terlambat jika kita tidak segera bangun. Inilah tujuan untuk membangunkan dan menyadarkan kita, walau tidak enak bagi kita, namun ini PERLU!
Puteri Sion diteriakkan untuk segera terjaga, karena waktunya tidak lama lagi, dia akan benar-benar mati apabila dia tidak segera sadar dan bangun, dan dilepaskan. Mungkin kita sedang terikat dengan masa lalu kita, oleh ketakutan akan masa depan kita, oleh dosa-dosa avon nenek moyang kita. Sadarkah kita?
Kegoncangan itu diperlukan dalam hidup kita. Beberapa kegunaan mengapa Bapa ijinkan kita mengalami kegoncangan:
1. Goncangan itu membangunkan kita
2. Goncangan itu menuai yang sudah matang
3. Goncangan itu melepaskan apa yang sudah mati
4. Goncangan itu menguatkan dan mengokohkan
5. Goncangan itu menyatukan kita
Pertandingan Rohani
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
1 Kor 9:24-27
Ketika surat ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, mereka masih mengenal budaya olahraga yang diadakan 2 tahun sekali di Korintus dan bagi mereka yang menang akan mendapatkan mahkota dari daun cemara. Rasul Paulus menasehatkan jemaat di Korintus mengenai sebuah PERTANDINGAN. Dalam kehidupan rohani, juga berlaku sebuah prinsip yang sama mengenai Pertandingan. Jangan sampai kita tidak bertanding dengan baik dan akhirnya tidak mendapatkan mahkota kemenangan kita.
Bangsa Israel melalui sebuah pertandingan yang sama, mereka menjadi pengikut Musa, dibabtis dalam lautan yang sama, makan Manna dan minum dari batu karang yang sama, namun ada banyak hal yang menghalangi sebagian besar dari mereka yang membuat mereka tidak dapat bertanding dan mendapatkan “hadiah” mereka.
Beberapa hal yang menjadi pelajaran dari pertandingan mereka yang gagal, yang perlu kita waspadai adalah:
1. Menginginkan hal-hal yang jahat (ROH TAMAK)
Ketamakan d akhir zaman ini semakin menampakkan dirinya. Kita menjadi tidak pernah puas dan tidak bisa dipuaskan dengan apa yang kita miliki, kita selalu merasa kurang dan kurang. Hati-hati jika kita dikuasai oleh Roh Ketamakan, maka kita akan lebih suka diperbudak oleh Mesir dan dosa daripada menjadi manusia yang bebas didalam Kristus, asal kedagingan kita dipuaskan dan disenangkan.
Apakah NAFSU itu? Nafsu adalah ketamakan yang selalu menginginkan sesuatu/seseorang sekarang juga! Tidak sabar menunggu dan tidak mengindahkan waktu dan kehendak Bapa. Nafsu lain ini mengejar keinginan dengan keras kepala apa yang belum diberikan oleh Bapa. Mereka menjadi kehilangan HASRAT kepada Tuhan/keingingan/kerinduan/gairah akan Tuhan.
Bangsa Israel tidak dapat dipuaskan oleh Manna yang dari Sorga (Bil 11), mereka tidak mempercayai Tuhan dengan segenap hati mereka walaupun mereka melihat semua mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan di tengah-tengah mereka. Apa yang menjadi keinginan kita, saudaraku? Menginginkan bukanlah sebuah dosa, namun keinginan yang menjadi Nafsu dan ketamakan akan berbuahkan dosa dan maut. Esau memiliki “Nafsu” yang rendah. Baginya lebih penting semangkuk kacang merah daripada hak kesulungan yang sangat berharga dan kekal.






