VICTORIUS CHRISTMAS
Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Lukas 1:30-38
Tidak akan ada Natal jika tidak ada kisah ini. Kisah yang sudah Allah Bapa siapkan sejak lama untuk rancangan keselamatan umat manusia. Saya percaya seorang gadis bernama Maria tidak akan pernah menyadari siapakah dirinya yang sebenarnya. Dia lahir sebagai putrid kecil dalam keluarga biasa yang sederhana dan bertumbuh selayaknya gadis kecil. Dia mulai jatuh hati seperti kebanyakan gadis lainnya dan berencana membangun sebuah kehidupan bersama pria yang dicintainya. Wajar bagi seorang gadis seumurnya. Namun Allah memiliki rahasia rencana-Nya yang ajaib kepada Maria..Wanita pilihan Allah. Tenryata Allah Bapa telah melihat Maria dan memberikan perkenan-Nya diam-diam kepada Maria. Seorang wanita yang disertai Allah, mendapat kasih karunia dari Bapa.
Pernahkah anda menyadari sebuah cerita akan terjadi dalam kehidupan anda dan andalah pelaku sejarah yang ajaib? Mungkin kita bukanlah Maria yang akan mengandung bayi Yesus kembali, melainkan kita orang-orang biasa yang sederhana dan penuh kelemahan..sedang menjalani sebuah kehidupan yang wajar dalam dunia ini..namun Bapa sedang memanggil kita untuk lebih dari yang sanggup kita pikirkan. RENCANA ALLAH! Betapa dalam dan lebarnya kata-kata ini! Siapakah yang dapat mendalami pikiran dan rancangan-rancangan-Nya?
Bagaimanapun, ternyata Bapa senang memilih dan memakai kita untuk tujuan-tujuan-Nya yang besar! Apakah anda mengenal orang-orang ini juga?
Yakub adalah seorang yang sangat licik dan penipu, Petrus murid Yesus sangat temperamental dan pemarah, Raja Daud yang kita kagumi ternyata adalah seorang pezinah, Nuh seorang pemabuk, Yunus seorang hamba Tuhan yang lari dari Tuhannya, bahkan Paulus adalah seorang pembunuh! Gideon adalah seorang muda yang selalu hidup dalam rasa tidak aman dan ketakutan, Miryam saudara Musa adalah seorang penggosip, Martha adalah seorang yang penuh kekuatiran. Sara seorang wanita yang mandul, Elia adalah nabi yang depresi, Musa seorang yang gagap, Zakeus seorang pria yang pendek, Abraham sudah tua dan Lazarus sudah mati.
Lagu Cinta (Lagu)
Evie Mehita
Kebangunan Rohani (Brian Edward)
Kebangunan rohani selalu berhubungan dan kekudusan. Dan hal itu diawali dengan kesadaran aka dosa secara mendalam. Seringkali bentuk kesadaran akan dosa inilah yang menjadi masalah bagi mereka yang membaca tentang kebangunan rohani. Kadang-kadang pengalamannya memilukan. Orang-orang mennagis dengan tidak terkendali, dan lebih parah lagi!
Tetapi tidak ada kebangunan rohani yang tanpa air mata penyesalan dan dukacita…..
Kebangunan rohani di China tahun 1906 “ditandai dengan kesadaran dosa yang sama sekali berbeda”. Tahun 1921 dalam kebangunan rohani yang dimulai di Pelabuhan ikan Anglikan Timur di Lowestoft dan Great Yarmouth, para nelayan yang bertubuh kuat tersungkurdi lantai dan disadarkan atas dosa-dosa mereka sampai seorang saksi mata melaporkan: “Tanah di sekeliling saya menjadi seperti medan pertempuran yang penuh dengan jiwa-jiwa yang menangis memohon belas kasihan Allah.”
Brian Edwards,
Revival: A People Saturated With God
Dampak Kebangunan Rohani (Jonathan Edward)
Jonathan Edward on Revival
HATIKU UNTUK ALLAHKU (End part ) KEPUTUSASAAN
Pernahkah anda mengalami JALAN BUNTU dan itu membuat anda menjadi begitu PUTUS ASA?
Mari lihat kelanjutan kisah Daud dan Saul yang sudah kita pelajari beberapa minggu ini. Saul dan Daud sama-sama mengalami KEPUTUSASAAN yang sangat. Saul begitu frustasi ketika Allah tidak lagi menjawab seruannya (1 Sam 28), ketika bangsa Filistin menyerang dia. Karena dia begitu putus asa, dia bahkan pergi menemui dukun yang sudah pernah dienyahkannya dari negeri itu, untuk memanggil arwah Samuel! Menjadi perdebatan siapakan Samuel yang muncul dihadapan Saul waktu itu? Apakah itu benar roh Samuel atau roh jahat? Tetapi dalam percakapan mereka terkandung kebenaran bahwa sikap Samuel tidak berubah kepada Saul. Saul mencari pembenaran dan penghiburan dari Samuel, tetapi dia tidak pernah mau menyadari kesalahannya sendiri.
Inilah penyebab Keputusasaan:
1. Keputusasaan karena ketidaktaatan Ini adalah jenis keputusasaan yang diakibatkan oleh kebebalan, penolakan mengikuti petunjuk Allah yang sudah jelas? Saul sudah mengetahui bahwa Daudlah yang terpilih menggantikannya, tetapi dia tetap melawan Allah, dia tidak pernah berlutut dan meminta Tuhan mengampuninya atas dosa pemberontakannya.
2. Keputusasaan karena iman yang palsu. Keputusasaan Saul juga berasal dari kebodohan rohani: ia tidak mengenal Tuhan didalam hatinya tetapi hanya menjalankan ibadah lahiriah saja. Bayangkan bahkan pada saat dia mendatangi wanita dukun itu, dia sedang menjalankan kewajiban ibadahnya! ( dia menolak tawaran makan dari si dukun karena alasan sedang berpuasa). Apakah keputusasaan kita terjadi karena kita beragama tanpa mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh? Apakah kita berupaya melunakkan hati Tuhan dengan berusaha mentaati peraturan ibadah lahiriah kita? Hal ini sama saja dengan menganggap Dia TIDAK SERIUS. Tuhan tidak akan dapat dikelabui oleh tipuan semacam itu. Ini bukanlah iman yang sejati.
Kita belajar dari Saul; kita harus menundukkan kehendak kita kepada kehendak-Nya dan mengembangkan hubungan yang akrab dengan Tuhan. Sedangkan Saul menolak keduanya. Akhir hidupnya begitu tragis.
KEMBALI KEPADA YANG MULA-MULA
Ditengah semaraknya pengajaran Alkitab dan penafsirannya yang terus berkembang di zaman ini, kita sangat perlu untuk menelaah Firman Tuhan sebenar-benarnya dengan cermat dan mengenal akan Pribadi Yesus Kristus yang benar. Jikalau kita tidak berakar dan bersumber dari Firman Tuhan, maka akan terjadi begitu banyak penafsiran yang salah bahkan penyesatan ajaran-ajaran yang mirip dengan kebenaran, yang tampaknya baik dan benar, namun merupakan penyimpangan dari Firman Allah yang mula-mula. Saudaraku, kita percaya bahwa Firman Allah selalu berlaku untuk semua zaman samai kedatangan Kristus keduakalinya, Firman Allah hidup dan selalu dapat memberikan jawaban bagi semua permasalahan kehidupan manusia. Namun Firman Tuhan juga harus kita lihat dari konteks waku, budaya, dan kisah yang terjadi pada waktu itu. Firman Tuhan tidak boleh ditafsirkan sendiri berdasarkan hikmat manusia, juga tidak boleh ditelan mentah-mentah aplikasinya tanpa memahami kebenarannya secara UTUH.
Fenomena yang mengerikan di akhir zaman ini terus saja berulang, dimana umat percaya hanya mementingkan bagaimana manisfestasi hadirat Tuhan yang muncul dalam sebuah ibadah namun tanpa memahami kebenaran Firman Tuhan, akan menjadikan jemaat yang kerdil iman yang hanya “kecanduan” dengan hal-hal “roh”. Gereja ita mempercayai akan pekerjaan Roh Kudus yang bermanifestasi dalam diri anak-anak-Nya namun kita juga merindukan gereja yang kuat dalam Firman, dalam kebenaran yang mula-mula dan pengenalan akan Kristus yang sejati.
HATIKU UNTUK ALLAHKU (part 5) KEMARAHAN
Jika kita mengamati kemarahan seorang anak kecil, kita bisa melihat bahwa kemarahan seperti sebuah permainan kekuasaan, tantangan untuk menentukan siapa yang menang. Si anak merasa bahwa melampiaskan kemarahan tampaknya merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan keinginannya. Moral Essay mengatakan tentang anak-anak “Seharusnya tidak dituruti permintaannya kalau dia memintanya dengan marah; bila anak itu sudah tenang, tawarkan padanya apa yang tadi anda tolak ketika dia menangis”. Demikian juga kemarahan terjadi pada orang dewasa. Kemarahan yang tidak terkendali menunjukkan ketidakdewasaan kita. Oleh kemarahan yang bisa mendatangkan maut, kemarahan bahkan bisa membunuh seseorang.
Saudaraku, apakah anda sedang marah? Marah dengan kehidupan, marah pada nasib, pada orang lain, pada diri sendiri, pada pekerjaan kita, dan marah kepada Tuhan? . Kemarahan terjadi karena kita merasa bahwa kita memiliki hak untuk marah. Kemarahan memiliki kekuatan yang dasyat untuk menghancurkan orang yang mengalaminya ataupun kepada korban kemarahannya. Mari kita melihat kembali Daud, calon Raja Israel yang sedang dalam pelariannya yang panjang. Sampailah Daud di padang Gurun (1 Sam 25) dan disana Daud dan 600 pengikutnya membutuhkan makanan di sepanjang gurun itu. Daud dan pengikutnya telah menjaga ternak Nabal (artinya; bebal), seorang yang kaya raya disana yang memiliki ribuan ternak. Daud dan pengikutnya ikut menjaga ternak itu tanpa diminta, dan saatnya Daud bicara pada Nabal untuk meminta bantuan Nabal untuk persediaan makanan pasukannya. Nabal tidak bijaksana, dia tidak sudi menolong Daud malah menghina Daud dengan pedas, “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba yang lari dari tuannya!” Nabal menyebut Daud sebagai pengembara yang melarikan diri dari tuannya. Mendengar jawaban itu, AMARAH Daud meledak “Kamu masing-masing sandanglah pedang!”. Daud menyuruh 400 orang pengikutnya untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki yang ada pada Nabal ! Tindakan Daud ini sungguh mengejutkan mengingat Daud berhasil menyikapi dengan baik ancaman Saul selama ini. Nabal memang telah menyinggung perasaannya namun bukankah Daud pernah mengalami perlakukan Saul yang lebih buruk lagi?
Sungguh tidak pantas Daud bertindak demikian, hal ini menggambarkan Daud tidak sedang bersandar kepada Tuhannya. Selama ini Daud menyerahkan penghakiman kepada Tuhan, namun sekarang dia ingin menghakimi sendiri.








